Modernis.co, Jogjakarta – Sebagian orang sering mengidentikkan ‘Aisyiyah sebagai kelompok ibu-ibu yang rutin ikut pengajian seminggu sekali. Tapi, emangnya cuma itu peran ‘Aisyiyah?
Siapa sih yang nggak pernah dengar nama ‘Aisyiyah?
Berdirinya ‘Aisyiyah jadi pioner bermunculannya gerakan perempuan. Organisasi ini secara aktif memperjuangkan banyak hal untuk meningkatkan peran dan kedudukan perempuan. Dan ini bukan klaim asbun “asal bunyi” doang, ceritanya panjang, tapi fakta.
Mendobrak Penilaian Terhadap Perempuan pada Masa Itu!
Mundur lagi ke Indonesia di awal abad ke-20. Saat itu, nggak semua perempuan bisa sekolah. Banyak yang mikir tugas perempuan ya cuma di dapur, sumur, dan kasur.
Di masa itu, masyarakat masih membatasi posisi perempuan. Mereka memberi akses pendidikan yang minim, mempersempit ruang gerak, dan jarang menganggap suara perempuan sebagai hal yang penting.
Bahkan sering terjadi perjodohan di bawah umur, kawin paksa, pemerkerjaan paksa perempuan untuk melayani pria hidung belang.
Kondisi sulit yang membuat perempuan seolah-olah tidak berdaya dan tidak punya kesempatan untuk memliki hidup yang manusiawi. Ini fakta dan mungkin juga dialami oleh ibu dan nenekmu.
Dalam situasi itu, Persyarikatan Muhammadiyah yang emang udah berdiri pada tahun 1912 dan sedang berkembang pesat punya pengaruh besar ke perkembangan kualitas hidup masyarakat. Termasuk pada kelompok perempuan.
Berdirinya Muhammadiyah bawa efek gede ke cara berpikir masyarakat pada saat itu. Mereka yang tergabung di Persyarikatan Muhammadiyah dapat berpikir lebih rasional, moderat, dan berkemajuan.
Tentu, anggota Muhammadiyah bukan cuma cowok aja, tapi juga ada perempuannya. Sehingga, diskusi mengenai kondisi masyarakat juga mengarah ke nasib perempuan pada zaman itu dan nanti.
Digagas oleh istri KH. Ahmad Dahlan yakni Siti Walidah, ‘Aisyiyah muncul pada 19 Mei 1917 dan langsung bikin gebrakan untuk mengubah kehidupan perempuan jadi lebih baik.
‘Aisyiyah hadir bukan cuma buat kumpul-kumpul, tapi ngajak perempuan lebih melek ilmu, sadar peran, dan berani maju. Ini langkah yang bisa dibilang nekat di zamannya.
Sebagai bagian dari Muhammadiyah, mendirikan ‘Aisyiyah pada masa itu sebagai langkah yang berani dan out of the box. Tapi justru dari sini keliatan, ‘Aisyiyah nggak main aman. Mereka visioner banget, jauh sebelum kata emansipasi jadi isu tren di masyarkat.
Pendidikan Bagi Perempuan itu Pondasi!

Dari awal, ‘Aisyiyah percaya kalau pendidikan itu kunci dari perubahan. Bukan cuma buat laki-laki, tapi juga perempuan.
Salah satu gebrakan paling nyata dari ‘Aisyiyah adalah fokusnya di bidang pendidikan. Mereka bikin sekolah, taman kanak-kanak, sampai lembaga pendidikan yang ramah buat anak dan perempuan.
Mereka ngajarin baca-tulis, ilmu agama, sampai keterampilan hidup. Intinya, perempuan Aisyiyah harus pintar, cerdas, dan mandiri. Sehingga bisa bikin trobosan buat ngatasin masalah yang ada.
Mereka punya kapasitas untuk berperan secara personal sebagai perempuan yang oke di tengah masyarakat. Jadi mereka kayak udah punya ilmu dan pengalaman yang matang buat memberi kontribusi nyata dalam setiap kebutuhan maupun tantangan masyarakat.
Mereka juga udah punya bekal yang cukup ketika harus berperan lebih personal. Seperti ketika menjadi istri untuk suami maupun sebagai orang tua bagi anak. Mereka udah punya standar kualitas sendiri buat keluarga yang berkemajuan.
Ketika banyak pihak yang masih ragu menyekolahkan anak perempuan, kader ‘Aisyiyah pada saat itu malah gaspol buat ngutamain pendidikan berkualitas, bukan progam makan gratis.

Di saat banyak orang masih mikir “perempuan cukup di rumah aja”, ‘Aisyiyah malah bilang, “Perempuan juga punya hak buat maju.” Keren bukan?
Bagi mereka pendidikan berkualitas penting banget, karena dari sinilah lahir generasi perempuan yang melek ilmu, pede, dan punya visi. Bisa dibilang, ‘Aisyiyah itu sudah mulai lebih awal sebelum isu ini jauh sebelum kehidupan modern.
Bayangin, tahun 1917 yang lalu mereka udah kepikiran bahas ginian! Mereka telah termotivasi dan terdorong untuk aktif, berpikir kritis, dan terlibat langsung di masyarakat.
Membangkitkan semangat mereka agar bukan hanya untuk mengurus urusan domestik rumah tangga saja, akan tetapi juga pada ranah yang lebih luas. Sehingga, pendidikan menjadi pondasi untuk memulai itu semua.
Jadi Gerakan Perempuan yang Lebih Komplek
Mereka nggak cuma fokus di pendidikan. Mereka juga terjun langsung di berbagai bidang masyarakat. Banyak layanan dan fasilitas masyarakat yang diiniasi oleh gerakan perempuan berkemajuan ini.
Mulai dari pendirian rumah sakit, klinik, panti asuhan, daycare, TPQ, lembaga zakat, layanan ibu dan anak, kajian keagamaan, kelompok umkm, dan lainnya.

Yang lebih keren adalah semua ini digerakkan oleh perempuan. Mereka turun ke lapangan, ngatur program, ngurus administrasi, dan jadi solusi buat masyarakat.
Jadi kalau ada yang bilang perempuan lemah, fix kamu cuma belum kenal kader-kader Muhammadiyah yang ada di ‘Aisyiyah. No drama, no gimmick.
Konsisten Berkemajuan
Berdiri lebih awal bukan satu-satunya alasan yang membuat mereka layak disebut sebagai pelopor gerakan perempuan berkemajuan. Sebab, mereka juga terus bergerak secara konsisten hingga hari ini.
Bahkan di era digital sekarang, ‘Aisyiyah tetap bersikap adaptif sebagai organisasi perempuan berkemajuan. Mereka masuk ke isu stunting, kesehatan mental, lingkungan, sampai literasi digital.
Hal ini bukti kalau gerakan perempuan berkemajuan Aisyiyah itu bukan cuma nostalgia, tapi proses panjang yang terus hidup dari dulu hingga kini. Mempertahankan nilai dengan tetap adaptif menggunakan cara baru yang lebih segar.
Karena ‘Aisyiyah ngajarin satu hal penting kalau kemajuan itu bukan berarti ninggalin nilai agama atau budaya. Justru sebaliknya, ‘Aisyiyah mengajak perempuan untuk berpikir terbuka, bersikap mandiri, dan menjadi berdaya, sambil tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman.
Kalau kita tarik ke konteks hari ini, spirit ‘Aisyiyah masih relate banget sama anak muda. Mereka ngomongin soal kesetaraan, kepemimpinan perempuan, pendidikan, dan kepedulian sosial.
Isu-isu yang sekarang sering wara-wiri di medsos. Bedanya, ‘Aisyiyah sudah mulai semua itu jauh sebelum jadi hashtag dan fyp.
Jadi, kenapa ‘Aisyiyah disebut pelopor gerakan perempuan berkemajuan? Karena mereka datang lebih awal, bergerak konsisten, dan dampaknya nyata dari dulu, sekarang, hingga nanti.
Mereka membuka jalan, ngeruntuhin batas, dan ngebuktiin kalau perempuan bisa jadi agen perubahan. Jadi yang masih mikir ‘Aisyiyah kelompok ibu-ibu pengajian doang, fiks kamu harus lebih mengenal ‘Aisyiyah.



Kirim Tulisan Lewat Sini